Setelah lama aku tak mereview film, kali ini kupilih film jadul yang dibuat berdasarkan buku historical fiction karya Irving Stone dengan judul yang sama: The Agony and the Ecstasy. Kisah ini bertutur tentang salah seorang maestro seni dari Italia: Michelangelo Buonarotti. Michelangelo awalnya terkenal sebagai pemahat, penyair dan arsitek. Pada masa Julius II menjadi Paus di Roma, Michelangelo adalah seniman yang dipekerjakan Paus untuk memahat kuburan marmernya.Julius II adalah Paus yang paling suka berperang (diperankan Rex Harrison) sekitar awal abad 16. Film dibuka dengan adegan masuknya arak-arakan Paus yang baru saja menang perang. Bapa Suci yang satu ini jauh dari gambaran Paus yang kita kenal, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan. Keseluruhan penampilannya memang gagah, dalam pakaian pemimpin perang ala Romawi (lengkap dengan bulu warna-warni di helmnya) dan menunggang kuda putih. Aneh juga melihat sosok yang barusan digambarkan menebas leher musuh, kini tiba-tiba berhenti di alun-alun untuk memberikan berkat pada umat yang berlutut mengelilinginya…
Saat itu muncul wajah maskulin milik Charlton Heston, yang memerankan sang maestro: Michelangelo. Dari adegan awal ini sudah nampak kebengalan Angelo! Di saat semua orang berlutut dengan khidmat, Angelo malah berdiri tegak. Saat itu ia tengah mengerjakan kuburan marmer bagi sang Paus. Diperlihatkan sekilas pembuatan marmer yang memberi pekerjaan banyak orang, dari menambang batu dari gunung, membawanya ke lokasi dengan menggunakan tenaga sapi, lalu memotong batu-batu besar itu, dan pemahatan yang dilakukan Angelo. Jadi teringat The Pillars of The Earth deh…
Di tengah-tengah pekerjaan membuat kuburan, Paus memerintahkan Angelo untuk melukis langit-langit kapel Sistine, yang merupakan kapel kepausan dan berada di kediaman resmi Paus. Kapel Sistine didirikan oleh Paus Sixtus IV, dari mana kapel itu mendapat namanya. Saat Julius II menjabat Paus, kapel itu nampak suram dengan langit-langit dan dinding berwarna kelabu. Michelangelo terkejut saat diperintahkan melukis langit-langit. Ia seorang pemahat, bukan pelukis. Paus tak mau menerima bantahannya, maka akhirnya Michelangelo—dengan berat hati, menerima tugas itu.
Awalnya obyek yang harus dilukis sesuai permintaan Paus adalah kedua belas rasul. Saat Angelo melukis beberapa bagian, tiba-tiba pada suatu malam ia merusak sendiri hasil karyanya, lalu melarikan diri. Hal ini terjadi setelah ia pergi ke bar dan mencicipi anggur yang ternyata rasanya masam. Spontan si pemilik bar membuang seluruh anggur dalam gentongnya, karena menurutnya anggur masam harusnya dibuang. Angelo pun merasa lukisannya harus dibuang karena tak sesuai keinginannya. Sang Paus marah besar dan menyuruh pasukannya menangkap Angelo. Dalam pelariannya, Angelo tertidur di atas gunung. Ketika bangun, fajar baru menyingsing, dan ia pun terpana melihat pemandangan matahari terbit di antara awan-gemawan. Salah satu gugusan awan itu terlihat bak sosok Tuhan, di mata sang seniman. ‘Penampakan’ ini menginspirasi Angelo untuk melukis gambar-gambar yang mengisahkan mulai dari penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia pertama (diambil dari Kitab Kejadian), hingga kisah-kisah dari Alkitab Perjanjian Lama lainnya, termasuk nenek moyang Yesus.
Dari semua tema, lukisan The Creation of Adam (Penciptaan Adam) merupakan salah satu karya seni Renaissance termashyur di dunia. Lukisan inilah yang terilhami dari ‘penampakan’ yang dilihat Angelo di gunung. Lukisan ini menggambarkan dua sosok. Di sebelah kanan adalah sosok Tuhan, tampak agung dalam wajah kebapakan dengan rambut dan janggut memutih, memakai jubah putih, sedang mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya. Di sebelah kiri, sesosok manusia laki-laki yang telanjang dengan wajah tak berdosa, mengulurkan tangan kirinya ke arah tangan Tuhan. Adegan ini mau menunjukkan bagaimana Tuhan menciptakan manusia serupa dengan citra diriNya sendiri (wajah Adam memang mirip dengan wajah Tuhan), lalu Tuhan mengalirkan percik kehidupan kepada Adam lewat jari telunjuknya, sementara Adam menerimanya dengan uluran tangan kirinya. Konon lukisan fenomenal The Creation of Adam ini hanya mampu disaingi oleh karya Leonardo Da Vinci: Monalisa.
Lucunya, Michelangelo memaparkan seluruh draft lukisannya ini kepada Paus, pada saat-saat genting pasukan kepausan sedang diserang musuh. Sri Paus, yang sebagai pucuk pimpinan pasukan harusnya memberikan perintah menyerang, malah mendiskusikan lukisan bersama Michelangelo. Tampak kepanikan di wajah asistennya, di tengah tembakan meriam yang sangat dekat dengan lokasi mereka. Ini mencerminkan betapa pentingnya arti lukisan langit-langit untuk kapel Sistine itu bagi Paus. Selain itu, meski ditentang banyak orang yang tak menyukai Michelangelo yang bandel dan sikapnya angkuh dan ‘semau gue’, Paus tetap bertahan untuk mempekerjakan Michelangelo.
Suatu saat, karena terlalu ngotot bekerja, Michelangelo tiba-tiba mendapati pandangannya kabur dan berputar-putar. Saat turun dari perancah, akhirnya Michelangelo jatuh ke lantai. Selama beberapa waktu ia terpaksa menganggur dalam masa pemulihan. Saat itu semangatnya mulai turun, dan ia merasa takkan pernah dapat melanjutkan proyek lukisan itu. Di titik ini, sang Paus sendiri mengunjungi Michelangelo dan menantangnya dengan mengatakan bahwa ia (Paus) berniat memberhentikan Angelo, dan menggantikannya dengan Raphael, pelukis terkenal juga pada saat itu yang ditugasi melukis tapestry (permadani dinding) kapel Sistine. Michelangelo tentu saja tak terima, karyanya akan dilanjutkan pelukis lain. Maka ‘jebakan’ Paus pun mengenai sasaran, tak lama kemudian Paus mendapati Michelangelo berbaring di atas perancah nun jauh di atas sana, sedang menggoreskan kuasnya ke langit-langit kapel…
Empat tahun pun berlalu. Empat tahun yang diisi dengan perdebatan tanpa henti dari sang Paus dan sang seniman. Sama-sama mudah marah, sang Paus dan sang seniman berkali-kali berseteru dan melemparkan omongan tajam sambil berteriak. Namun, karena memiliki ambisi yang sama, keduanya malah saling menguatkan satu sama lain. Ketika Paus terbaring karena luka-luka dan kekalahan dalam perang, seluruh bawahannya sudah mengira Paus akan mangkat. Paduan suara menyanyikan kidung sedih, para biarawati berdoa di sekeliling ranjang uskup, para Kardinal merundingkan langkah yang harus dilakukan. Saat itu yang perlu dilakukan Michelangelo hanyalah menyelonong masuk ke kamar Paus (ia sudah dianggap sahabat Paus), lalu tiba-tiba berpamitan hendak pulang ke Florence. Seperti biasa, Paus pun marah, dan Michelangelo menggunakan momen ini untuk menyindir bahwa Paus pun tidak menyelesaikan pekerjaannya sendiri (memenangkan perang). Dengan kalimat sakti itu, Paus serta merta segar bugar, dan mulai (kembali) marah-marah pada bawahannya yang sedang berduka…
Dan akhirnya….dengan penuh kebanggaan, Paus pun dapat mengorbankan misa di kapel Sistine yang telah selesai dilukis. Adegan penutupnya, ketika Michelangelo berbincang dengan Paus di tengah kapel, cukup memberi kesan terhadap seluruh film ini. Satu hal yang kurasakan kurang, adalah lukisan di langit-langit itu sendiri yang disorot agak terlalu sedikit dan dari jarak terlalu jauh. Alangkah indahnya kalau kamera menyorot beberapa lukisan yang paling terkenal, seperti The Creation of Adam itu dalam jarak dekat dengan pencahayaan yang kuat, sehingga kita bisa merasakan pesona dan kekuatan lukisan itu yang, konon, menggetarkan siapa saja yang melihatnya.
Inilah keseluruhan lukisan menakjubkan itu, dilihat dari bawah,

Setelah lukisan di langit-langit kapel Sistine itu, Michelangelo pun menyandang status baru, sebagai pelukis kelas dunia.
----
Hal yang tak kalah menariknya untuk dicermati, adalah metode yang dipakai Michelangelo melukis, yakni Fresco—metode yang lazim digunakan di era Renaissance. Fresco adalah teknik melukis mural di atas plaster (pelapis dinding atau langit-langit, semacam mortar atau semen tapi lebih halus). Mula-mula pelukis Fresco melabur permukaan dengan lapisan plaster tipis. Lalu draft lukisan ditransfer ke plaster dengan suatu alat (tidak jelas bentuknya) untuk menandai bentuk luarnya. Dalam keadaan plaster masih basah, pelukis membubuhkan cat ke atas lapisan itu. Bahan kimia yang terkandung dalam plaster, membuat pigmen warna melekat sempurna. Kemudian setelah agak mengering, Michelangelo baru melukiskan detail-detail bayangan dan sebagainya untuk membuat gambarnya ‘hidup’. Menarik bukan? Dan anda hanya bisa menyaksikan dengan jelas lewat filmnya. Berikut ini trailernya:
Judul film: The Agony and the Ecstasy
Sutradara: Carol Reed
Pemeran utama: Charlton Heston, Rex Harrison
Produksi: 20th Century Fox
Format: VCD
Tahun pembuatan: 1965 (layar lebar); 1992 (versi VCD)
Durasi: 139 menit


2 komentar:
Film klasik ya...
Ini film tahun berapa mba Fanda? Seru banget dan kayaknya debat kusir dua orang ini lucu.. *pengen nonton*
Post a Comment